This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 23 April 2024

Kina Bank: tips to get you started andsaving

Make your money grow with a budget. Here’s some tips to get you started and
saving:

1. Have a goal: Set a savings goal to keep you motivated, this could be a holiday,
renovations, or a new vehicle.

2. Track your spending for a month: Being aware of where your money is going can help you plug ‘money leaks’ things that you may forget you’re spending on like take away, drinks and other irregular payments.

3. Use the 50-20-30 approach: put 50% of your income towards bills, food, mortgage or rent and transport; 20% towards savings and debt repayments; and 30% towards the things you enjoy!

4. Plan for the unexpected: Set aside small amounts regularly to make sure you have enough saved for the unexpected like medical bills or vehicle repairs.

5. Have separate spending and savings accounts: If you are finding your spending is eating into your savings, consider opening a separate account to avoid the
temptation.

6. Act: Remember, a budget is a strategy for savings, the hard work is up to you! You
may want to set reminders or have friends and family check-in to keep you on top of
your goals.

To get your budget in action, explore our different account options to help you save: 
 
Kina Tomorrow Savings Account: kinabank.com.pg/personal-banking/kina-tomorrow-savings/

Kina Cash Management Accounts: kinabank.com.pg/personal-banking/kina-cash-management-account/
 
Stay tuned for more great financial tips this Financial Literacy Month!

Friday, 11 July 2014

Papua Shop, Papua Mart, Papua Market, Papua Biz

All these names "Papua Shop, Papua Mart, Papua Market, Papua Biz" are currently buzzing Online lately after PAPUAmart.com was launched by the Baliem Arabica Cooperative based in Wamena, Papua, the Isle of New Guinea as a pioneer in Online Sales and Shopping in the Island.

Since the last century the Isle of New Guinea was reached by foreign explorers, intruders and colonizers. This century the Island is still regarded as primitive, stone age, and that cannibalism is commonly practiced in this part of the world, which are totally and fully untrue, and wrong by the moral standards of this so called civilized human society.

Papua Shop is part of our efforts to develop Online networks among Melanesian peoples and between Melanesians and the rest of the world, in order to enable us to

  1. Sell our local products, and
  2. Buy your global products
  3. and it is done ONLINE
By this way, there is no reason for anybody to come and justify that they need to clear our forests, which are our home villages, for the sake of and in the name of development. If we can sell our products to you, and we can buy your products happily and just on a CLICK of on the screen of our mobile phones and computers, then why should we need roads and buildings in order to modernize us?

We are saying, we are OK, we can do business with you without sacrificing our forest, your forests, our live and also your live. Well, we hope you know that New Guinea Rainforest is the second the the Amazon Rainforest, the only two virgin rainforests left on this planet that you and us should and must protect, for the sake of ourselves, and more importantly for our future generations.

We hope our message is reaching you, and you are listening to our voice. Yes, this is the voice of the Nature of New New Guinea.


Tuesday, 1 July 2014

Star Coffee: Wawancara Baliem Blue Coffee dengan Petani Kopi di Pegunungan Bintang


Oksibil, 1 July, 2014.

Setelah sekian puluh Tahun menunggu pasaran Kopi yang pasti akhirnya Pak Hengky Bidana menarik nafas legah karena pasar kopi bukan dicarinya tetapi pasar mencari pak Hengky B sampai di kediamanya.

Bagaimana suka-duka dalam menekuni usaha Kopi jenis Arabica meskipun tidak ada pasar yang pasti untuk menjual hasil panan setiap musimnya. Uraian ini hasil perbbincangan kami dengan beliau.

Baca Lanjut di sini

Tuesday, 16 July 2013

Alumni Teruna Bakti Perlu Penguatan Ekonomi

 16 July, 2013  Written by  Sekertariat

“Menurut saya, Alumni Teruna Bakti kurang berkarya dalam penguatan ekonomi di masyarakat”.Hal ini terungkap dari hati yang paling dalam s’orang tokoh Alumni Teruna Bakti lulusan 1995 yang sedang berkarya di Pegunungan Bintang. Saat rehat kopi di Green Hotel Kamkey Abepura selasa 16 Juli 2013, Ketua Alumni berdiskusi dengan Kepala Bidang Perencanan Fisik Sarana Prasarana BAPEDA Kab. Pegunungan Bintang Spey Bidana, ST.M.Si. Sambil bercerita hangat pemetaan para Alumni TB di seputaran Papua, Spey Bidana merasa ada yang kurang dari karya-karya para Alumni TB. Sebut saja di Pegunungan Bintang baru dua orang Alumni TB yang mempunyai perusahaan antara lain

Konstan Uropmabin satu-satunya pemilik toko bangunan di Pegunungan Bintang dan Pieter Kalakmabin, anggota DPR sekaligus pemilik Pom Bensin satu-satunya di Pegunungan Bintang. Peran mereka memberikan kontribusi bagi penguatan ekonomi rumah tangga dan dampaknya bagi masyarakat cukup baik.

Spey Bidana, Putra Ngalum berkampung halaman Kiwirok ini juga mengatakan Alumni Teruna Bakti yang pernah tinggal di Asrama Putra Teruna Bakti ( sekarang sudah menjadi Seminari Menengah ) memiliki kemampuan dalam menjajaki pergulatan politik di Tanah Papua, hal ini dikarenakan irama hidup di asrama pada saat itu menuntut para alumni untuk mampu bersolider dalam keadaan kritis sekalipun. Sehingga para Alumni TB yg pernah di asrama ketika menamatkan diri dan berada di lingkungan masyarakat mempunyai ketajaman naluri dalam berpolitik dan membangun daerahnya. Bayangkan saja saat itu di asrama dihuni oleh alumni yang berasal dari Asmat, Merauke, Tanah Merah, Timika, Kokonao, Pegunungan Bintang, Paniai, Nabire, Wamena, Intan Jaya, Enarotali, Moenamani,dll. Mereka terlebur dalam satu irama hidup selama tiga tahun, menghilangkan ego sukuisme untuk sama-sama mencapai tujuan luhur pendidikan, sehingga ketika tamat dari Asrama mereka mampu bedaptasi dengan semua lingkungan, segala issue dan tajam dalam beranalisa sekalipun orang dulu mengatakan penghuni asrama TB adalah orang-orang yang datang dari kampung-kampung dan pedalaman. Namun Terbukti saat ini hampir seluruh kabupaten tentunya ada alumni Teruna Bakti yang duduk sebagai Ketua DPRD, Ketua Komisi DPRD dan anggota DPRD.

Melihat potensi ini, Spey Bidana merasa ada yang kurang yaitu pengusaha-pengusaha handal dari Alumni TB. Akar dari kekurangan itu adalah : Para Alumni TB merupakan individu-individu yang sangat loyal serta memahami arti dari “kasih dan pengorbanan” namun kurang mampu membangun kekuatan kantong pribadi. “kita harus berdaya dulu baru berdayakan orang lain” sambil menegaskan. Oleh sebab itu Spey Bidana akan membangun komunikasi dengan teman-teman seangkatannya yang saat ini memegang jabatan antara lain : Bupati Intan Jaya, dan Kepala PU Intan Jaya untuk memberikan peluang usaha bagi para alumni TB yang ingin menjadi mitra dengan pemerintah setempat. Beliau menambahkan hal ini telah dibangun oleh Alumni Teruna Bakti di Pegunungan Bintang, sehingga alumni di Pegunungan Bintang bertekat salah satu alumni TB Jayapura yang tersebar di tanah Papua untuk merebut kursi nomor satu di Papua 10 tahun mendatang, yang penting semua harus kompak dari berbagai kabupaten untuk membangun kekuatan terutama kekuatan ekonomi.

Selain berbicara mengenai ekonomi, Spay Bidana juga bertekat meneruskan buah pemikiran mantan Rektor Seminari Teruna Bakti tahun 1998 s.d 2001 Ptr. Dr. Darmin Mbula, OFM yang dalam cita-cita terputus ingin membangun SD Teruna Bakti ( Baca artikel : menyambung mimpi yang terputus ), SMP Teruna Bakti, hingga Universitas Teruna Bakti. Oleh sebab itu beliau memberikan apresiasi dan mendorong ketua Ikatan Alumni Teruna Bakti agar terus berjuang mendirikan Yayasan Alumni Teruna Bakti. Saat mengetahui tahun ini Alumni Teruna Bakti membiayai 8 orang putri asli Papua dari Wamena untuk bersekolah di Teruna Bakti dan tinggal di Asrama Putri St. Clara, beliau merasa terharu dan sangat tergerak hati agar tahun depan Pegunungan Bintang juga mengutus 5 orang bersekolah di SMA TB dan tinggal di Asput St. Clara, karena inilah cara yang digunakan oleh misionaris dulu sehingga kader-kader asli Papua sekarang jadi pemimpin di kabupaten-kabupaten. Spay Bidana juga berharap agar tahun depan para alumni yang berada di Asmat, Merauke, Tanah Merah, Timika, Kokonao, Nabire, Paniai, Moenamani, Intan Jaya, Enarotali, dll mengutus putra-putri terbaik mereka bersekolah di SMA Teruna Bakti dan mendorong agar pemda setempat membantu biaya persekolaan. Menutup acara minum kopi bersama, Spay Bidana menitipkan sejumlah uang sabun bagi 8 putri utusan Alumni Teruna Bakti agar mereka semangat menempuh hidup baru di lingkungan SMA YPPK Teruna Bakti. Salam hangat dari alam Aplim Apom Pegunungan Bintang, Yepmum,,,,,,,Pro Ecclesia Et Patria.

Biodata Singkat Spey Bidana, ST, M.Si :



Studi



SD Impres Oklib ( 1989 )
SMP YPPK Bintang Timur Mabilabol Oksibil
SMA YPPK Teruna Bakti Jurusan IPA ( lulusan 1995 ) dan Asrama Putra Teruna Bakti Waena
S1 Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Jogyakarta Jurusan Teknik Geologi ( 2001 )
S2 Universitas Gajah Mada Magister Perencanan Lingkungan ( 2003 )
Karya dan Karir :

Ketua KNPI Kab.Pegunungan Bintang ( dua periode 2006 s.d 2009 dan 2009 s.d 2013 )
Kabid Ekonomi BAPEDA Kab.Pegunungan Bintang ( 2008 s.d 2010 )
Kabid Perencanaan Fisik Sarana Prasarana BAPEDA Kab.Pegunungan Bintang ( 2010 hingga saat ini )

Keluarga :

Menikah dengan s’orang Alumni SMA Teruna Bakti angkatan 2000, yang juga Alumni Asput St. Clara : “Susana Apaseray” dan sekarang mereka sudah memiliki buah hati tercinta.
Memiliki seorang adik kandung Alumni SMA YPPK Teruna Bakti tahun 2001 yang saat ini sedang menyiapkan diri wisuda Magister Psikologi Pendidikan di UGM, yaitu Geraldus Bidana.

Monday, 4 March 2013

KSU Baliem Arabica Export 12 Ton ke USA


Senin, 04 Maret 2013 01:27, BintangPapua.com

Jayapura – Periode Desember hingga Januari 2013 KSU ( Koperasi Serba Usaha ) Baliem Arabica berhasil melakukan Ekspor Kopi Arabica Ke Negara adi daya USA ( Amerika Serikat ) , sebanyak 12 Ton selaku eksportir tunggal Kopi Arabica Wamena. Hal tersebut merupakan pencapaian yang sempurna,sebagai pelaku usaha Pribumi Papua.

Sejak Juni 2007 dibentuk Koperasi Serba Usaha ( KSU ) kopi Arabica dengan mengusung visi dan misi salah satu mewujudkan program Nasional yaitu pemberdayaan Ekonomi kerakyatan melalui pengembangan kopi Arabica bersertifikat organic dengan standart export dengan tujuan ke Negara maju .

Hal tersebut telah dibuktikan dengan produknya yang sudah merambah ke berbagai belahan dunia selain USA ,juga cina, Swiis dan Jepang,” kata Ketua KSU Baliem Arabica kemarin bertempat di Hotel Horison Jayapura 1/3-2013. Dikatakan, di bulan April nantinya pihaknya akan mengeksport kembali ke USA lebih dari 12 ton dimana hal tersebut sesuai permintaan dari salah satu Pengusaha Lokal disana.

Untuk Area Perkebunan Kopi Arabica Organik Meliputi Mambramo tengah,lani jaya, Tolikara, Pegunungan Bintang, Puncak Jaya,Yalimo dan dan Yahokimo, menurut Selion Tempat- tempat tersebut merupakan sentra pertanian Kopi arabika mutu terbaik yang ada di papua.

dan guna memudahkan petani memasarkan Kopi keluar perkebunan, pihak Koperasi Baliem Arabica selalu menggunakan system jemput bola artinya setiap panen tiba pihak KSU langsung ambil ditempat tempat tersebut dari petani,hal tersebut dilakukan untuk memutus agar biaya yang dikeluarkan para petani untuk membawa hasil produksi lebih kecil , paparnya .

penjemputan bukan hanya di area perkebunan kopi Kabupaten Jayawijaya tetapi juga kekabupaten lain Di Pegunungan tengah,termasuk kabupaten Puncak jaya.

Untuk harga perliter Kopi Arabica dari Petani mencapai rp 7 ribu dari harga sebelumnya rp 5 ribu per liter, kenaikan harga tersebut dilakukan Pihak KSU bertujuan agar Kesejahteraan petani kopi semakin baik dan para petani kopi akan semakin lebih termotivasi untuk berkebun dengan lebih baik lagi sehingga mampu menghasilkan kopi unggulan yang nantinya siap bersaing di Pasar global, pungkas Selion ( Ady/don/lo1)

Monday, 1 October 2012

DPRD Pegunungan Bintang Provinsi Papua Kunker ke Tobasa



Submitted by Anonymous on Mon, 01/10/2012 - 23:51, HarianMandiri.com

TOBASA, MANDIRI: Duabelas anggota DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Wakil rakyat ini hadir di Tobasa bersama Asisten II Kabupaten Pegunungan Bintang Bartomoeus Paragai MSi dan sejumlah pejabat lainnya Senin (1/10).

Setiba di Balige, rombongan langsung disambut Ketua DPRD Sahat Panjaitan, Wakil Ketua Jojor Tambunan, Ir Viktor Tambunan, Jojor Napitupulu SE, Mangapul Siahaan SSi dan Bupati Tobasa diwakili Asisten I Drs Wasir Simanjuntak, Staf Ahli Bupati dan para Kepala Dinas, Kepala Badan dilingkungan Pemkab Tobasa di ruang sidang DPRD Tobasa.

Menyambut rombongan DPRD dan Asisten II Kabupaten Pegunungan Bintang tersebut, Asisten I Pemkab Tobasa Wasir Simanjuntak mengucapkan selamat datang di Tobasa. Selanjutnya memperkenalkan para pimpinan SKPD kepada rombongan D. Nicolaus Kakyarmabin SIP.

Terkait tujuan kunjungan DPRD Pegunungan Bintang, Wasir Simanjuntak mengatakan pihaknya akan memberikan informasi yang dibutuhkan, dan membawanya kelapangan melihat langsung lahan pertanian yang ingin diketahui proses pengolahan dan pemeliharannya.

Mendengar hal itu Ketua DPRD Pengunungan Bintang D. Nicolaus Kakyarmabin menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap DPRD dan Pemkab Tobasa. “kami bangga atas penyambutan ini, karenanya kami mengucapkan terimakasih kepada DPRD dan Pemkab Tobasa. Harapan kami dengan kunker ini akan menambah wawasan dan pengetahuan kami tentang kepariwisataan, pertanian, perkebunan dan pendidikan,” sebutnya

D.Nicolaus menjelaskan, Kabupaten Pegunungan Bintang baru berusia 9 tahun. Kabupaten ini berbatasan dengan Papua Nugini. Sumber pendapatan masyarakat mayoritas dari pertanian salah satunya kopi. Tetapi karena masyarakat kurang memahami bagaimana cara memelihara lanjut D.Nicolaus diamini anggota DPRD lainnya, hasilnya tidak maksimal bahkan sering tidak ada hasil.

Karenanya mereka termotivasi datang ke Tobasa untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang bertani kopi yang baik, meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, mengembangkan sektor pariwisata serta menjaga dan memelihara hutan.

Menyikapi hal itu Ketua DPRD Tobasa Sahat Panjaitan menyebutkan pihaknya siap berbagi ilmu, baik melalui diskusi maupun kunjungan kelapangan. “sepanjang dibutuhkan kami akan fasilitasi,” ujarnya.
Karena DPRD dan pejabat eksekutif Kabupaten Pegunungan Bintang lebih konsen terhadap Pertanian, Pendidikan, Kehutanan dan Pariwisata, Sahat Panjaitan memperkenalkan para anggota DPRD Tobasa yang hadir secara khusus Komisi C yang membidangi keempat sektor tersebut.

Anggota DPRD Pegunungan Bintang Provinsi Papua yang hadir antara lain D. Nicolaus Kakyarmabin SIP, Daniel Well S.Sos, Jhon L Gurning SPd, Thouce Napyal, Pieter Kalakmabin, Nasman I Mirin, Dewilson Wasini, Ananias Kalaka, Yermina Kulka, Dewas Mallo dan Seniur Alimdam didampingi Asisten II Bartomeus Paragai dan sejumlah pejabat lainnya. Rombongan ini direncanakan kembali ke Papua Rabu depan. (AS)

Thursday, 6 September 2012

Kopi Papua hasilkan laba ratusan juta



Koran SINDO, Minggu,  16 September 2012  −  15:41 WIB

Sindonews.com - Bisnis kopi Papua yang dimulai Prawito Adi Nugroho empat tahun silam ini perlahan menuai hasil manis. Tidak hanya menguntungkan, namun juga membuka lapangan kerja.

Prawito tadinya tidak menyangka komoditas kopi asal Pegunungan Bintang, Papua ini dapat memberi keuntungan menarik. Peluang usaha ini berawal ketika sepupu Prawito yang berada di Papua, bernama Winardi, kedatangan suku asli di sebuah gudang di distrik Wamena dan menawarkan kopi hasil panennya. Meski sempat ragu dan bingung memanfaatkan komoditas ini, 20 kg kopi mentah pun dikirimkan ke Jakarta.

Bermodalkan koneksi di salah satu coffee shop ternama di daerah Senopati, Prawito pun berniat menjual kopi mentah tersebut. Dari tempat inilah semua bermula. “Dia tanya jenis kopinya, tapi saya buta sama sekali tentang kopi. Bentuknya juga berantakan, tapi setelah digoreng (sangrai/roasted) 1 kg, dia bilang ini bisa jadi kopi bagus,” kenang lulusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara ini.

Setahun lamanya Prawito mempelajari seluk beluk kopi dan pengolahannya. Setelah mendapatkan masukan dan tambahan pengetahuan baik dari teman, buku, maupun informasi lainnya secara perlahan Prawito menerapkan cara mengolah kopi yang baik sehingga menghasilkan produk yang disebut Arabica Specialty Coffee.

Pekerjaan di sebuah event organizeryang telah empat tahun dilakoninya pun mulai ditinggalkan dan fokus di usaha ini. “Akhirnya saya aplikasikan ilmunya ke sana (Papua) ngajarinnya lumayan juga, satu tahunan,”ujar penggila fotografi ini. Dari segi rasa, Prawito mengatakan, ahli yang mencicipi kopi Papua mengatakan, kopi ini memiliki cita rasa campuran cokelat, buah-buahan, dan sedikit rasa tanah.

Biji kopi dapat disebut sebagai biji kopi spesial bila memenuhi beberapa syarat utama di antaranya tanaman kopi harus tumbuh minimal di ketinggian 1.200–2.200 di atas permukaan laut. Papous Coffee merupakan kopi yang berasal dari Papua tepatnya di pegunungan Lembah Baliem Wamena, lembah di pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian di atas 1.600 meter atau puncak lembah dengan ketinggian tertinggi di Indonesia.

Biji kopi mentah (Green Bean) menjadi awal usaha Papous Coffee. Nama Papous diambil dari sebutan Belanda untuk Papua pada zaman penjajahan dahulu, Papoos. Perkebunan ini memang tadinya perkebunan milik Belanda pada zaman penjajahan. “Saya baca-baca zaman dulu Pulau Papua itu di peta kuno namanya Papoos/Papous,”ujarnya.

Dengan modal Rp30 juta dari tabungan pribadinya, Prawito mulai membeli kopi dalam jumlah besar.Sebanyak 500 kg kopi langsung diboyong ke Jakarta dengan perantara saudara sepupunya, membeli hasil kopi dari petani skala kecil yang tinggal di lembah Baliem, dekat Kota Wamena dan di lembah Kamu, dekat Kota Moanemani.

Kedua wilayah ini terletak di ketinggian antara 1.400 dan 2.200 meter di atas permukaan laut. Selain untuk membeli kopi, uang tersebut juga dipakai untuk membeli alat sortir,membayar tenaga orang, serta ekspedisi barang. “Itu pas tahun kedua, setelah belajar kopi, pakai uang tabungan,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Awalnya Prawito mulai menjadi penyuplai biji kopi mentah untuk satu kopi di daerah Senopati. Tak lama permintaan kopi khas Papua berkembang dan menjadikan dirinya sebagai penyuplai untuk beberapa produsen kafe seperti Anomali, JJ Royal Coffe, Maharaja Coffe, Santino Coffee, Roswell Coffee, dan sejumlah kafe atau coffee house lainnya. Selain itu, produk kopi ini juga sudah masuk di Grand Lucky SCBD, KemChick Kemang, dan beberapa pasar swalayan.

“ Untuk sementara promosi kita lebih banyak online. Facebook, Twitter, dan dari teman-teman yang terdekat dulu,”tuturnya. Selain Green Bean, pada 2010 Papous mulai mengembangkan produk biji kopi matang (Roasted Bean Coffee). Untuk produk ini Green Bean yang telah melalui proses sortir dipanggang menggunakan mesin ‘roaster’. Roasted Bean pun dikemas dalam beberapa macam ukuran yaitu 100 gr,200 gr, dan kemasan 1 kg.

Kemasan kopi ini pun dibuat secara khusus dengan menggunakan kemasan khu-sus kopi yang diimpor dari Taiwan. “Kalau ke distributor kita ada quantity minimumnya, di atas 5 kg,”ujar pria kelahiran 1980 ini. Produk terakhir, Coffee Bar, konsep mini kafe yang dirintis pada 2011 dengan menyajikan kopi siap minum dengan berbagai menu andalan Papous Coffee untuk berbagai acara.

Prawito pun telah mempekerjakan seorang pegawai gudang di daerah Bekasi dan dua orang pegawai Coffee Bar. Selain itu, Prawito juga memanfaatkan beberapa keluarga yaitu sekitar 15 keluarga di sekitar Bekasi yang bertugas untuk menyortir kopi. Hingga tahun keempat, Prawito sudah merasakan wanginya keuntungan kopi Papua ini.

Secara omzet,kata Prawito, tiap produk memberikan kontribusi yang berbeda. Green Bean masih menjadi kontributor terbesar, yang dalam setahunan menghasilkan omzet sekitar Rp200-300 juta.“Green Bean hitungannya satu tahun, kira-kira Rp200-300 juta, tapi itu masih kecil karena kita terbatas di dana. Kalau misalnya suatu saat kita kuat bisa lebih dari itu,”tuturnya.

Sementara produk Roasted Bean Coffee setiap bulan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp10-15 juta, dan Coffee Bar menghasilkan omzet sekitar Rp15 juta per bulan. (mai)

(gpr)

Saturday, 14 July 2012

Genjot Ekspor, Kopi Indonesia Dipamerkan di Amerika


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Beragam jenis kopi khas Indonesia pernah dipamerkan di Annual Exposition Specialty Coffee Association of America (SCAA) ke-24 di Portland, Oregon, Amerika Serikat, April lalu. Atase Perdagangan Washington D.C, Ni Made Ayu Marthini mengungkapkan partisipasi Indonesia pada SCAA 2012 diharapkan lebih mengenalkan kopi Indonesia kepada masyarakat AS.

Sehingga ekspor kopi Indonesia ke AS juga dapat terus meningkat,” ujar Ayu melalui siaran pers yang diterima Republika, Senin (14/5).

Ketika itu, pengusaha kopi Indonesia menampilkan kopi spesial Indonesia dari berbagai daerah, antara lain Toraja, Mandailing, Java Preanger, Flores, Linthong, Gayo, Java Arabika, Lampung, Bali Kintamani, Papua Jayawijaya, Papua Pegunungan Bintang, Kopi Luwak, Kopi Lanang, dan Kopi Gajah.

Melalui pameran ini, mereka mendapat pesanan kopi hingga 70 kontainer dengan nilai sekitar 8 juta Dollar. Pemesanan yang berupa fix order dan trial order ini lebih banyak didominasi oleh produk kopi Arabica Toraja, Mandailing dan Papua.

Berdasarkan data statistik, ekspor kopi Indonesia ke AS terus meningkat. Total ekspor produk kopi Indonesia ke AS tahun 2011 mencapai 326 juta Dollar, atau meningkat 37,61 persen dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 237 juta Dollar. Dari perdagangan RI-AS pada Januari 2012, ekspor kopi Indonesia mencapai 33,3 juta Dollar, atau meningkat 68 persen dibanding periode yang sama pada 2011 yaitu 19,8 juta Dollar.

Sebanyak 15 eksportir kopi Indonesia yang turut berpartisipasi dalam SCAA 2012. Selain Indonesia, hadir juga beberapa negara produsen kopi seperti Brasil, Costa Rica, El Savador, Ethiopia, Guatemala, Honduras, India, Kenya, Meksiko, Peru, Puerto Rico, dan Uganda.

Pengunjung yang hadir berjumlah sekitar 9.000 orang yang terdiri dari produsen kopi, baristas (bartender kopi), peritel kopi, produsen dan distributor peralatan pembuat kopi, jasa makanan profesional, petani, eksportir, importir, peritel roaster, serta grosir.

Saturday, 7 July 2012

Kopi Khas Indonesia di Pamerkan di Amerika Serikat


7 Juli 2012 oleh grosirkopibanyuwangi

Jakarta (ANTARA News) - Kopi Khas Indonesia – Pameran Annual Exposition Specialty Coffee Association of America (SCAA) ke-24 yang berlangsung di Portland, Oregon, Amerika Serikat memperkenalkan beragam jenis kopi khas Indonesia.

“Partisipasi Indonesia pada SCAA 2012 diharapkan dapat lebih mengenalkan kopi Indonesia kepada masyarakat AS, sehingga ekspor kopi Indonesia ke AS juga dapat terus meningkat,” ujar Atase Perdagangan Washington DC, Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan pers Pusat Humas Kementerian Perdagangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pada pameran tersebut, para pengusaha kopi Indonesia menampilkan kopi spesial Indonesia dari berbagai daerah, antara lain Toraja, Mandailing, Java Preanger, Flores, Linthong, Gayo, Java Arabika, Lampung, Bali Kintamani, Papua Jayawijaya, Papua Pegunungan Bintang, Kopi Luwak, Kopi Lanang, dan Kopi Gajah.

Menurut Ni Made Ayu Marthini, keikutsertaan Indonesia pada pameran kopi berjalan baik dan para peserta bertemu dengan para pembeli regular maupun pembeli baru.

Melalui pameran ini, lanjut dia, peserta pameran mendapat pesanan kopi hingga 70 kontainer dengan nilai sekitar delapan juta dolar AS.

“Pemesanan yang berupa fix order dan trial order ini lebih banyak didominasi oleh produk kopi Arabica Toraja, Mandailing dan Papua,” katanya.

Berdasarkan data statistik, ekspor kopi Indonesia ke AS terus menunjukkan peningkatan. Total ekspor produk kopi Indonesia ke AS pada 2011 mencapai 326 juta dolar AS, atau meningkat 37,61 persen dibandingkan 2010 yang mencapai 237 juta dolar AS.

Sedangkan dari data statistik perdagangan Indonesia-AS pada Januari 2012, ekspor kopi Indonesia mencapai 33,3 juta dolar AS, atau meningkat 68 persen dibanding periode yang sama pada 2011 yaitu 19,8 juta dolar AS.

Pengekspor kopi Indonesia yang turut berpartisipasi dalam SCAA 2012 tercatat sebanyak 15 perusahaan. Kelimabelas perusahaan tersebut adalah PTPN XII, CV. Sukses Agro Sekawan, PT. Kopiku Indonesia, PT. Excelso Multi Rasa, PT. Sari Makmur Tunggal Mandiri.

Kemudian, PT. Wahana Graha Makmur, CV. Harapan Bersama, CV. Sidikalang, PT. Sumico Mandiri, Koperasi Permata Gayo, PT. Sumatra Arabica Gayo, CV. Eka Nusa Jaya, PT. Coffindo dan Valbemar.

Selain para pengusaha tersebut, hadir 11 orang delegasi Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua yang dipimpin oleh Wakil Bupati.

Kehadiran para delegasi tersebut adalah untuk meningkatkan peluang masuknya kopi produk Papua yang pada 2011 mendapatkan pesanan pengimpor AS sebesar 12 kontainer setiap tahun.

Ni Made Ayu Marthini menjelaskan pameran SCAA 2012 ini juga menampilkan lebih dari 380 lokasi booth yang dihadiri oleh partisipan dari 40 negara.

“Selain kepada masyarakat AS, kita juga berkesempatan untuk memperkenalkan kopi Indonesia kepada partisipan SCAA lainnya yang berasal dari berbagai negara,” katanya.

Dalam pameran tersebut hadir juga beberapa negara produsen kopi seperti Brazil, Costa Rica, El Savador, Ethiopia, Guatemala, Honduras, India, Kenya, Meksiko, Peru, Puerto Rico, dan Uganda.

Pengunjung yang hadir berjumlah sekitar 9.000 orang yang terdiri dari produsen kopi, baristas (bartender kopi), peritel kopi, produsen dan distributor peralatan pembuat kopi, jasa makanan profesional, petani, pengekspor, pengimpor, peritel roaster, serta grosir.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Amerika ini bertujuan untuk meningkatkan dan menjaga mutu kopi spesial dengan menerapkan berbagai standar dan sertifikasi, serta memberikan berbagai pendidikan dan pelatihan bagi para anggotanya.

Selain itu, pameran SCAA diselenggarakan untuk mempromosikan produk kopi serta mensosialisasikan perkembangan/tren produk kopi terbaru melalui beragam rangkaian kegiatan yang ada di dalamnya, seperti simposium, sertifikasi kopi, workshop, US Barista Championship, dan Potrait Country Program.

Pada acara Country Profile, salah satu negara produsen kopi menjadi fokus utama dan untuk tahun ini yang terpilih adalah Peru.

Namun Indonesia telah melakukan pendekatan dengan petinggi dan penasihat SCAA agar dapat menjadi Country Profile pada 2014.

“Agar dapat tampil lebih baik pada SCAA selanjutnya, Indonesia akan meningkatkan promosi, presentasi, branding, pemahaman pasar, serta professional development,” ujar Ni Made Ayu Marthini.

Pada kesempatan lain, Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) juga melaksanakan kegiatan “cupping” untuk produk-produk kopi spesial Indonesia. Cupping merupakan kegiatan dimana pada ahli kopi mencicipi contoh kopi yang disediakan untuk kemudian memberikan pendapat atas cita rasa dari kopi tersebut.

AKSI menyajikan 20 produk varian kopi arabika dari berbagai wilayah di Indonesia dan sebanyak 10 ahli cupping hadir dan memberikan penilaian atas kopi Indonesia tersebut.

Dalam pameran tahun ini, Atase Perdagangan Indonesia di Washington D.C. bersama Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles memberikan fasilitas booth bagi peserta pameran dari Indonesia.

Sementara untuk konstruksi booth, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian juga memberikan bantuan dalam memfasilitasi.

Selain itu, dalam mempersiapkan pameran, promosi dan kepesertaan, beberapa instansi pemerintah Indonesia yang turut berpartisipasi, antara lain Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Ditjen P2HP Kementan, Atase Pertanian Washington D.C.

Kemudian, Fungsi Ekonomi KBRI, KJRI San Francisco, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pegunungan Bintang Papua, PTPN Wilayah XII, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), serta AKSI.

Menurut Ni Made Ayu Marthini kesuksesan Indonesia dalam pameran kopi yang bertaraf internasional ini tidak lepas dari kerja sama dan sinergi yang baik antara berbagai instansi pemerintah dan para pengusaha kopi.  (S034/A026)

Sumber berita dikutip dari : http://www.antaranews.com

Friday, 9 September 2011

Pegunungan Bintang Bangun Bandara


9/09/2011 01:27:00 AM  ELSHAM NEWS SERVICE


JAKARTA (Suara Karya): Perkembangan Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, tergolong pesat. Pembangunan terus dilakukan untuk kepentingan masyarakat di Pegunungan Bintang, di antaranya rencana pembangunan puluhan lapangan terbang di daerah ini. Dari puluhan proyek lapangan terbang ini, 13 di antaranya sudah selesai dibangun dan sebanyak 26 proyek dalam tahap pembangunan. Dana untuk pembangunan seluruh lapangan terbang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).


"Kami bertekad memajukan daerah ini. Semua demi memajukan masyarakat Papua, khususnya buat rakyat yang mendiami kawasan pegunungan yang sulit dijangkau karena terisolasi dan terbelakang. Bahkan, kemiskinan melekat pada masyarakat di daerah ini," kata Bupati Pegunungan Bintang Wellington Lod Wenda kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/9).

Menurut dia, Kabupaten Pegunungan Bintang mendiami banyak distrik ini memiliki lapangan terbang yang tersebar di 5 distrik. Yakni Distrik Pamek, Okbibab, Bime, Batani, dan Borme. Saat ini sebanyak 65 lapangan terbang sudah dapat didarati 78 persen atau sebanyak 62 lapangan terbang yang aktif. Untuk wilayah timur Pegunungan Bintang ada Lapangan Terbang Tinibal di Distrik Oksamol dan Lapangan Terbang Okhim. Sedangkan wilayah selatan ada Lapangan Terbang Tundubon, Kubibhap, dan Lapangan Terbang Pepera.

Wellington, yang kelahiran Papua pada 54 tahun lalu ini, memang meniti karier dari bawah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang ingin memajukan wilayahnya. Berkat dedikasinya, Wellington mendapat penghargaan satya lencana pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Bahkan, baru-baru ini, dia juga mendapat penghargaan dari Aliansi Wartawan Indonesia karena memberikan kontribusi keahliannya untuk mendidik dan memotivasi masyarakat mengenal karakter bangsanya.

Wellington yan sudah dipercaya dengan menjabat bupati dua periode ini tengah berupaya menerapkan program ketahanan pangan berbasis sistem roda ekonomi rakyat, salah satunya dengan membuat usaha toko serba ada (toserba) yang dikelola oleh para pengurus gereja. Toserba ini diharapkan dapat berkembang menjadi BUMD yang akan mengelola layanan penyediaan listrik. Selain itu juga untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok masyarakat yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Seluruhnya mencakup bidang pertanian tanaman pangan dan sayuran, perkebunan kopi serta bidang peternakan dan perikanan."Pendidikan formal dan moral jadi perhatian kami untuk memajukan masyarakat," ujarnya. (Antara/Bayu)

Sumber; SUARAKARYA

Tuesday, 4 January 2011

Memandirikan Masyarakat Oksibel


Oksibil adalah ibu kota Pegunungan Bintang Papua, kota kecil yang sejuk dan dingin ini terletak di ketinggian sekitar 1400 meter dari permukaaan laut, dengan panorama alam yang masih terasa asli dan asri kota Oksibel terasa sejuk dan damai. Kota oksibel merupakan kota yang berada di cekungan yang dikelilingi tangkapan aiar hujan pegunungan kapur (kars) berkarakter hutan hujan pegunungan tinggi. di Kota inilah kali pertama saya menginjak tanah Papua tercinta.

Kesan lain yang menonjol di kota Oksibil adalah harga kebutuhan hidup baik kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder lainya. Contoh harga sayur kol dengan ukuran normal (sebesar kelapa) harga sudah pasti diatas dua puluh ribu per biji, semen per sak 800.000 - 1.200.000, bensin dan solar harga rata rata 35.000 per liter, demikian kondisi harga yang tinggi karena semua sangat tergantung pasokan dari kota Jaya Pura dengan aalat tranport satu satunya hanya pesat udara.

Melihat kondisi tersebut, saya yang kebetulan di beri kesempatan tugas singkat di Oksibil atas fasilitasi teman teman Kemitraan yang bergerak dalam pendampingan percepatan masyarakat pedalaman di perbatasan negara merasa beruntung bisa berhubungan langsung dengan masyarakat Papau khususnya di Oksibel sekaligus mempraktekan pengalaman selama ini untuk di ujiterapkan juga di masyarakat Oksibel.

Bekal pengalaman saya selama ini banyak karena berhubungan pada kegiatan yang terkait dengan pemberdayan masyarakat pedalaman (Timor Leste, Dayak Kaharingan, Hutan Rakyat di Jawa dll), tentu kesempatan ini menjadi tantangan dan pengalaman baru bagi profesi saya khususnya belajar memahami kondisi sosial, biofisik dan budaya masyarakat asli di Oksibel.

Awal inventarisasi dan identifikasi yang saya lakukan terhadap kondisi alam dan sosial di Oksibel cukup saya rekam melalui kondisi pasar dan kehidupan sehari hari di kota, dan saya identifikasi mendalam melalui wawancara dengan masyarakat setempat. Tidak hanya disitu pendalaman kondisi karakteristik saya lakukan juga dengan identifikasi aktifitas masyarakat di pedesaaan khususnya di Distrik Okpol dan Kolomdol, dari dua sampel dapat saya analisa bahwa Potensi SDA baik hutan, lahan, tambang dan kekuatan sosial apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat sangat memiliki potensi yang menguntungkan bagi Masyarakat dan Pemerintah Pegunungan Bintang.

Langkah yang dapat dilakukan dengan cara bagaimana masyarakat menyadari sumber daya lahan dan hutan merupakan anugerah dan kekayaaan nyata yang dimiliki masyarakat Oksibel, dan bagaimana sumber daya tersebut dapat di daya gunakan dengan se optimal mungkin, ini semua sangat tergantung cara dan pendekatan yang diambil. Saya menyimpulkan bahwa pendampingan serius sangat diperlukan dalam mengembangkan kekuatan SDA di sna dengan mengajak belajar membaca peluang dan potensi yang sesuai karakteristik lokal di Oksibel.

Dari pengalaman praktek selama 2 minggu pengalaman yang saya peroleh bahawa potensi yang dapat dikembangkan di Oksibel untuk nantinya terbangun kemandirian Kota dan Masyarakat salah satu diantaranya adalah potensi holtikultura (sayur, kentang, ubi jalar khas oksibel, tomat belanda, kacang hutan, buah merah dll), kemandirian energi, pengaturan adat akan penebangan hutan yang lestari bersamaan pengaturan penanamannya, biji tanaman hutan unggul seperti (sengon, cemara gunung, kayu besi, araukaria), pengelolaan potensi wisata lokal, kopi pegunungan khas pegunungan tinggi cars organik, dan masih banyak lainya. semua potensi dapat menjadi produk skala lokal dan juga untuk dikembangkan pemasaran skala besar (dijual keluar oksibel).

Strategi pengembangan sangat dipengaruhi dengan campur tangan pemerintah daerah dan kesadaran serta dukungan tokoh masyarakat adat setempat. Karena tokoh adat merupakan komunitas lokal yang memiliki faktor pengaruh sangat tinggi terhadap kemajuan pembangunan, di Oksibel, maka sejak awal perencanaan sebaiknya dipatekat hanya untuk kejayaan masyarakat oksibel. apabila keselarasan dapat dijalankan saya percaya dengan waktu tempuh lima tahun sebagian produk lokal Oksibel akan mampu memandirikan masyarakat dan mengenalkan Oksibel ke daerah lain.

Selain kekuatan SDA, hal lain yang mesti menjadi perhatian dan pencermatan bersama, bahwa kota hutan Oksibel ternyata juga memiliki sifat rawan kekeringan alami, karena walaupun hutan di sana lebat tetapi karakteristik fisik hutan di sana tidak akan mampu menahan air lama, dan air setiap hujan yang turun sudah pasti dan dapat diyakini lebih banyak menjadi aliran permukaaan (runoff), sedang sisanya tersimpan dalam lobang lobang kapur menjadi air terjebak yang kita tidak tau arah aliranya. Air hujan sebagian juga tersimpan di lembah kota oksibel (reservoir) dan lebih banyak mengalir ke anak anak sungai sampai ke laut.

Hijauanya Hutan di Oksibel bukan gambaran kecukupan akan daya menyimpan air, yang umumnya terjadi di hutan hutan lain di luar papua, hal ini yang sering mengecoh kita, bahwa kita sering beranggapan bahwa hijau hutan identik dengan tingginya air yang disimpan dalam hutan, ini tidak berlaku di hutan Oksibel. Kenapa demikian, karena lantai hutan di sana merupakan batu kars hampir sama dengan Wonosari, yang memiliki solum tanah sangat tipis, namun karena karakter hutan hujan pegunungan tinggi yang memiliki intensitas dan jumlah hujan yang tinggi maka sifat hijau vegetasinya juga selalu tampak lestari, padahal sebenarnya jangka panjang sangat rawan kekeringan apabila salah pengelolaannya. Coba bayangkan apabila hujan di Oksibel sempat tidak turun selama 2 -3 minggu, saya percaya kekeringan sudah tentu akan dirasakan, apalagi tempat penyimpanan air alami (reservoir) yang ada saat ini khususnya di lembah justru sekarang banyak berubah menjadi tempat pemukiman (kota) , maka perencanaan pemanfaatan sumber daya lahan dan hutan serta pengelolaannya sudah barang tentu harus secermat mungkin dan mengedepankan kelestarian lingkungan menjadi sangat prioritas saat ini. Semua dapat berjalan apabila pekerjaan bersama pemerintah dan masyarakat di Oksibel dapat selaras antara ekonomi, sosial, budaya dan kelestariannya.

Dengan memahami karakternya, Semoga Oksibel Berjaya.

salam dan hormat kami yang rindu Oksibel
Idi Bantara. ( idibantara@yahoo.co.id)
Sahabat , Pengembang dan Pemerhati Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Pedalaman Terkhusus Oksibel.

Wednesday, 3 September 2008

Panen Kopi, Teh, dan Padi di Pegunungan Bintang


JAYAPURA, RABU- Masyarakat Distrik Iwur di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, telah mengembangkan  tanaman kopi, teh, serta pertanian padi ladang yang dalam waktu dekat sudah dipanen untuk memenuhi kebutuhan lokal dan menambah pendapatan asli daerah (PAD) di daerah itu.

Bupati Kabupaten Pegubin, Welington Lod Wenda di Oksibil, ibukota Kabupaten Pegubin, Rabu (3/9), membenarkan, masyarakat secara swadaya membuka perkebunan kopi dan teh serta menanam padi ladang. "Kondisi tanah dan iklim di wilayah ini cocok, maka di Distrik Iwur dikembangkan dua tanaman perkebunan yaitu kopi dan teh, serta menanam padi ladang," kata Wenda.

Padi ladang baru dikembangkan beberapa bulan lalu dan diharapkan dalam waktu dekat dipanen untuk memenuhi kebutuhan pangan beras bagi masyarakat setempat bahkan memenuhi kebutuhan pangan di Oksibil.

Selama ini, masyarakat tidak bisa mengonsumsi pangan jenis beras karena beras yang didatangkan dari luar oleh pengusaha harganya mahal, mencapai Rp 25.000/kg. Sedangkan perkebunan kopi dan teh, kata Wenda, belum lama ini dipantaunya. Kedua tanaman itu tumbuh subur tidak menggunakan pupuk kimia melainkan pupuk alam dan didukung iklim yang sejuk.

Peluang tanaman dataran tinggi lain yang akan dikembangkan di Iwur seperti markisa, apel, anggur dan tanaman dataran tinggi lainnya. Menurut Wenda yang didampingi Wakil Bupatinya, .Theodorus Sitokdana, usaha swadaya masyarakat Iwur itu terus dikembangkan setelah dikirim beberapa petani untuk magang di luar Papua seperti di Sulawesi Selatan, Malang, Probolinggo di Jawa Timur dan beberapa daerah di Pulau Jawa.

Bahkan, khusus bagi kopi dan teh, sudah ada pengusaha yang telah menyatakan kesedian menampung dan mengolah dalam pabrik untuk selanjutnya diantarpulaukan. "Peluang ini sangat baik, sehingga direncanakan dikucurkan dana untuk pengembangan tanaman kopi dan teh, selain untuk memenuhi kebutuhan lokal juga meningkatkan  pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Pegubin," kata Wenda.

Distrik Iwur berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel dengan memiliki hamparan tanah yang luas dengan tingkat kesuburan yang tinggi yang cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan dataran  kopi, teh, markisa, apel dan buah anggur. "Namun semuanya ini membutuhkan dana besar dan tenaga ahli yang memadai," tambah Wenda.