This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, 7 July 2012

Kopi Khas Indonesia di Pamerkan di Amerika Serikat


7 Juli 2012 oleh grosirkopibanyuwangi

Jakarta (ANTARA News) - Kopi Khas Indonesia – Pameran Annual Exposition Specialty Coffee Association of America (SCAA) ke-24 yang berlangsung di Portland, Oregon, Amerika Serikat memperkenalkan beragam jenis kopi khas Indonesia.

“Partisipasi Indonesia pada SCAA 2012 diharapkan dapat lebih mengenalkan kopi Indonesia kepada masyarakat AS, sehingga ekspor kopi Indonesia ke AS juga dapat terus meningkat,” ujar Atase Perdagangan Washington DC, Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan pers Pusat Humas Kementerian Perdagangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pada pameran tersebut, para pengusaha kopi Indonesia menampilkan kopi spesial Indonesia dari berbagai daerah, antara lain Toraja, Mandailing, Java Preanger, Flores, Linthong, Gayo, Java Arabika, Lampung, Bali Kintamani, Papua Jayawijaya, Papua Pegunungan Bintang, Kopi Luwak, Kopi Lanang, dan Kopi Gajah.

Menurut Ni Made Ayu Marthini, keikutsertaan Indonesia pada pameran kopi berjalan baik dan para peserta bertemu dengan para pembeli regular maupun pembeli baru.

Melalui pameran ini, lanjut dia, peserta pameran mendapat pesanan kopi hingga 70 kontainer dengan nilai sekitar delapan juta dolar AS.

“Pemesanan yang berupa fix order dan trial order ini lebih banyak didominasi oleh produk kopi Arabica Toraja, Mandailing dan Papua,” katanya.

Berdasarkan data statistik, ekspor kopi Indonesia ke AS terus menunjukkan peningkatan. Total ekspor produk kopi Indonesia ke AS pada 2011 mencapai 326 juta dolar AS, atau meningkat 37,61 persen dibandingkan 2010 yang mencapai 237 juta dolar AS.

Sedangkan dari data statistik perdagangan Indonesia-AS pada Januari 2012, ekspor kopi Indonesia mencapai 33,3 juta dolar AS, atau meningkat 68 persen dibanding periode yang sama pada 2011 yaitu 19,8 juta dolar AS.

Pengekspor kopi Indonesia yang turut berpartisipasi dalam SCAA 2012 tercatat sebanyak 15 perusahaan. Kelimabelas perusahaan tersebut adalah PTPN XII, CV. Sukses Agro Sekawan, PT. Kopiku Indonesia, PT. Excelso Multi Rasa, PT. Sari Makmur Tunggal Mandiri.

Kemudian, PT. Wahana Graha Makmur, CV. Harapan Bersama, CV. Sidikalang, PT. Sumico Mandiri, Koperasi Permata Gayo, PT. Sumatra Arabica Gayo, CV. Eka Nusa Jaya, PT. Coffindo dan Valbemar.

Selain para pengusaha tersebut, hadir 11 orang delegasi Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua yang dipimpin oleh Wakil Bupati.

Kehadiran para delegasi tersebut adalah untuk meningkatkan peluang masuknya kopi produk Papua yang pada 2011 mendapatkan pesanan pengimpor AS sebesar 12 kontainer setiap tahun.

Ni Made Ayu Marthini menjelaskan pameran SCAA 2012 ini juga menampilkan lebih dari 380 lokasi booth yang dihadiri oleh partisipan dari 40 negara.

“Selain kepada masyarakat AS, kita juga berkesempatan untuk memperkenalkan kopi Indonesia kepada partisipan SCAA lainnya yang berasal dari berbagai negara,” katanya.

Dalam pameran tersebut hadir juga beberapa negara produsen kopi seperti Brazil, Costa Rica, El Savador, Ethiopia, Guatemala, Honduras, India, Kenya, Meksiko, Peru, Puerto Rico, dan Uganda.

Pengunjung yang hadir berjumlah sekitar 9.000 orang yang terdiri dari produsen kopi, baristas (bartender kopi), peritel kopi, produsen dan distributor peralatan pembuat kopi, jasa makanan profesional, petani, pengekspor, pengimpor, peritel roaster, serta grosir.

Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Amerika ini bertujuan untuk meningkatkan dan menjaga mutu kopi spesial dengan menerapkan berbagai standar dan sertifikasi, serta memberikan berbagai pendidikan dan pelatihan bagi para anggotanya.

Selain itu, pameran SCAA diselenggarakan untuk mempromosikan produk kopi serta mensosialisasikan perkembangan/tren produk kopi terbaru melalui beragam rangkaian kegiatan yang ada di dalamnya, seperti simposium, sertifikasi kopi, workshop, US Barista Championship, dan Potrait Country Program.

Pada acara Country Profile, salah satu negara produsen kopi menjadi fokus utama dan untuk tahun ini yang terpilih adalah Peru.

Namun Indonesia telah melakukan pendekatan dengan petinggi dan penasihat SCAA agar dapat menjadi Country Profile pada 2014.

“Agar dapat tampil lebih baik pada SCAA selanjutnya, Indonesia akan meningkatkan promosi, presentasi, branding, pemahaman pasar, serta professional development,” ujar Ni Made Ayu Marthini.

Pada kesempatan lain, Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) juga melaksanakan kegiatan “cupping” untuk produk-produk kopi spesial Indonesia. Cupping merupakan kegiatan dimana pada ahli kopi mencicipi contoh kopi yang disediakan untuk kemudian memberikan pendapat atas cita rasa dari kopi tersebut.

AKSI menyajikan 20 produk varian kopi arabika dari berbagai wilayah di Indonesia dan sebanyak 10 ahli cupping hadir dan memberikan penilaian atas kopi Indonesia tersebut.

Dalam pameran tahun ini, Atase Perdagangan Indonesia di Washington D.C. bersama Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles memberikan fasilitas booth bagi peserta pameran dari Indonesia.

Sementara untuk konstruksi booth, Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) Kementerian Pertanian juga memberikan bantuan dalam memfasilitasi.

Selain itu, dalam mempersiapkan pameran, promosi dan kepesertaan, beberapa instansi pemerintah Indonesia yang turut berpartisipasi, antara lain Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Ditjen P2HP Kementan, Atase Pertanian Washington D.C.

Kemudian, Fungsi Ekonomi KBRI, KJRI San Francisco, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pegunungan Bintang Papua, PTPN Wilayah XII, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), serta AKSI.

Menurut Ni Made Ayu Marthini kesuksesan Indonesia dalam pameran kopi yang bertaraf internasional ini tidak lepas dari kerja sama dan sinergi yang baik antara berbagai instansi pemerintah dan para pengusaha kopi.  (S034/A026)

Sumber berita dikutip dari : http://www.antaranews.com

Friday, 9 September 2011

Pegunungan Bintang Bangun Bandara


9/09/2011 01:27:00 AM  ELSHAM NEWS SERVICE


JAKARTA (Suara Karya): Perkembangan Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, tergolong pesat. Pembangunan terus dilakukan untuk kepentingan masyarakat di Pegunungan Bintang, di antaranya rencana pembangunan puluhan lapangan terbang di daerah ini. Dari puluhan proyek lapangan terbang ini, 13 di antaranya sudah selesai dibangun dan sebanyak 26 proyek dalam tahap pembangunan. Dana untuk pembangunan seluruh lapangan terbang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).


"Kami bertekad memajukan daerah ini. Semua demi memajukan masyarakat Papua, khususnya buat rakyat yang mendiami kawasan pegunungan yang sulit dijangkau karena terisolasi dan terbelakang. Bahkan, kemiskinan melekat pada masyarakat di daerah ini," kata Bupati Pegunungan Bintang Wellington Lod Wenda kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/9).

Menurut dia, Kabupaten Pegunungan Bintang mendiami banyak distrik ini memiliki lapangan terbang yang tersebar di 5 distrik. Yakni Distrik Pamek, Okbibab, Bime, Batani, dan Borme. Saat ini sebanyak 65 lapangan terbang sudah dapat didarati 78 persen atau sebanyak 62 lapangan terbang yang aktif. Untuk wilayah timur Pegunungan Bintang ada Lapangan Terbang Tinibal di Distrik Oksamol dan Lapangan Terbang Okhim. Sedangkan wilayah selatan ada Lapangan Terbang Tundubon, Kubibhap, dan Lapangan Terbang Pepera.

Wellington, yang kelahiran Papua pada 54 tahun lalu ini, memang meniti karier dari bawah sebagai pegawai negeri sipil (PNS) yang ingin memajukan wilayahnya. Berkat dedikasinya, Wellington mendapat penghargaan satya lencana pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Bahkan, baru-baru ini, dia juga mendapat penghargaan dari Aliansi Wartawan Indonesia karena memberikan kontribusi keahliannya untuk mendidik dan memotivasi masyarakat mengenal karakter bangsanya.

Wellington yan sudah dipercaya dengan menjabat bupati dua periode ini tengah berupaya menerapkan program ketahanan pangan berbasis sistem roda ekonomi rakyat, salah satunya dengan membuat usaha toko serba ada (toserba) yang dikelola oleh para pengurus gereja. Toserba ini diharapkan dapat berkembang menjadi BUMD yang akan mengelola layanan penyediaan listrik. Selain itu juga untuk distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok masyarakat yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Seluruhnya mencakup bidang pertanian tanaman pangan dan sayuran, perkebunan kopi serta bidang peternakan dan perikanan."Pendidikan formal dan moral jadi perhatian kami untuk memajukan masyarakat," ujarnya. (Antara/Bayu)

Sumber; SUARAKARYA

Tuesday, 4 January 2011

Memandirikan Masyarakat Oksibel


Oksibil adalah ibu kota Pegunungan Bintang Papua, kota kecil yang sejuk dan dingin ini terletak di ketinggian sekitar 1400 meter dari permukaaan laut, dengan panorama alam yang masih terasa asli dan asri kota Oksibel terasa sejuk dan damai. Kota oksibel merupakan kota yang berada di cekungan yang dikelilingi tangkapan aiar hujan pegunungan kapur (kars) berkarakter hutan hujan pegunungan tinggi. di Kota inilah kali pertama saya menginjak tanah Papua tercinta.

Kesan lain yang menonjol di kota Oksibil adalah harga kebutuhan hidup baik kebutuhan pokok dan kebutuhan sekunder lainya. Contoh harga sayur kol dengan ukuran normal (sebesar kelapa) harga sudah pasti diatas dua puluh ribu per biji, semen per sak 800.000 - 1.200.000, bensin dan solar harga rata rata 35.000 per liter, demikian kondisi harga yang tinggi karena semua sangat tergantung pasokan dari kota Jaya Pura dengan aalat tranport satu satunya hanya pesat udara.

Melihat kondisi tersebut, saya yang kebetulan di beri kesempatan tugas singkat di Oksibil atas fasilitasi teman teman Kemitraan yang bergerak dalam pendampingan percepatan masyarakat pedalaman di perbatasan negara merasa beruntung bisa berhubungan langsung dengan masyarakat Papau khususnya di Oksibel sekaligus mempraktekan pengalaman selama ini untuk di ujiterapkan juga di masyarakat Oksibel.

Bekal pengalaman saya selama ini banyak karena berhubungan pada kegiatan yang terkait dengan pemberdayan masyarakat pedalaman (Timor Leste, Dayak Kaharingan, Hutan Rakyat di Jawa dll), tentu kesempatan ini menjadi tantangan dan pengalaman baru bagi profesi saya khususnya belajar memahami kondisi sosial, biofisik dan budaya masyarakat asli di Oksibel.

Awal inventarisasi dan identifikasi yang saya lakukan terhadap kondisi alam dan sosial di Oksibel cukup saya rekam melalui kondisi pasar dan kehidupan sehari hari di kota, dan saya identifikasi mendalam melalui wawancara dengan masyarakat setempat. Tidak hanya disitu pendalaman kondisi karakteristik saya lakukan juga dengan identifikasi aktifitas masyarakat di pedesaaan khususnya di Distrik Okpol dan Kolomdol, dari dua sampel dapat saya analisa bahwa Potensi SDA baik hutan, lahan, tambang dan kekuatan sosial apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat sangat memiliki potensi yang menguntungkan bagi Masyarakat dan Pemerintah Pegunungan Bintang.

Langkah yang dapat dilakukan dengan cara bagaimana masyarakat menyadari sumber daya lahan dan hutan merupakan anugerah dan kekayaaan nyata yang dimiliki masyarakat Oksibel, dan bagaimana sumber daya tersebut dapat di daya gunakan dengan se optimal mungkin, ini semua sangat tergantung cara dan pendekatan yang diambil. Saya menyimpulkan bahwa pendampingan serius sangat diperlukan dalam mengembangkan kekuatan SDA di sna dengan mengajak belajar membaca peluang dan potensi yang sesuai karakteristik lokal di Oksibel.

Dari pengalaman praktek selama 2 minggu pengalaman yang saya peroleh bahawa potensi yang dapat dikembangkan di Oksibel untuk nantinya terbangun kemandirian Kota dan Masyarakat salah satu diantaranya adalah potensi holtikultura (sayur, kentang, ubi jalar khas oksibel, tomat belanda, kacang hutan, buah merah dll), kemandirian energi, pengaturan adat akan penebangan hutan yang lestari bersamaan pengaturan penanamannya, biji tanaman hutan unggul seperti (sengon, cemara gunung, kayu besi, araukaria), pengelolaan potensi wisata lokal, kopi pegunungan khas pegunungan tinggi cars organik, dan masih banyak lainya. semua potensi dapat menjadi produk skala lokal dan juga untuk dikembangkan pemasaran skala besar (dijual keluar oksibel).

Strategi pengembangan sangat dipengaruhi dengan campur tangan pemerintah daerah dan kesadaran serta dukungan tokoh masyarakat adat setempat. Karena tokoh adat merupakan komunitas lokal yang memiliki faktor pengaruh sangat tinggi terhadap kemajuan pembangunan, di Oksibel, maka sejak awal perencanaan sebaiknya dipatekat hanya untuk kejayaan masyarakat oksibel. apabila keselarasan dapat dijalankan saya percaya dengan waktu tempuh lima tahun sebagian produk lokal Oksibel akan mampu memandirikan masyarakat dan mengenalkan Oksibel ke daerah lain.

Selain kekuatan SDA, hal lain yang mesti menjadi perhatian dan pencermatan bersama, bahwa kota hutan Oksibel ternyata juga memiliki sifat rawan kekeringan alami, karena walaupun hutan di sana lebat tetapi karakteristik fisik hutan di sana tidak akan mampu menahan air lama, dan air setiap hujan yang turun sudah pasti dan dapat diyakini lebih banyak menjadi aliran permukaaan (runoff), sedang sisanya tersimpan dalam lobang lobang kapur menjadi air terjebak yang kita tidak tau arah aliranya. Air hujan sebagian juga tersimpan di lembah kota oksibel (reservoir) dan lebih banyak mengalir ke anak anak sungai sampai ke laut.

Hijauanya Hutan di Oksibel bukan gambaran kecukupan akan daya menyimpan air, yang umumnya terjadi di hutan hutan lain di luar papua, hal ini yang sering mengecoh kita, bahwa kita sering beranggapan bahwa hijau hutan identik dengan tingginya air yang disimpan dalam hutan, ini tidak berlaku di hutan Oksibel. Kenapa demikian, karena lantai hutan di sana merupakan batu kars hampir sama dengan Wonosari, yang memiliki solum tanah sangat tipis, namun karena karakter hutan hujan pegunungan tinggi yang memiliki intensitas dan jumlah hujan yang tinggi maka sifat hijau vegetasinya juga selalu tampak lestari, padahal sebenarnya jangka panjang sangat rawan kekeringan apabila salah pengelolaannya. Coba bayangkan apabila hujan di Oksibel sempat tidak turun selama 2 -3 minggu, saya percaya kekeringan sudah tentu akan dirasakan, apalagi tempat penyimpanan air alami (reservoir) yang ada saat ini khususnya di lembah justru sekarang banyak berubah menjadi tempat pemukiman (kota) , maka perencanaan pemanfaatan sumber daya lahan dan hutan serta pengelolaannya sudah barang tentu harus secermat mungkin dan mengedepankan kelestarian lingkungan menjadi sangat prioritas saat ini. Semua dapat berjalan apabila pekerjaan bersama pemerintah dan masyarakat di Oksibel dapat selaras antara ekonomi, sosial, budaya dan kelestariannya.

Dengan memahami karakternya, Semoga Oksibel Berjaya.

salam dan hormat kami yang rindu Oksibel
Idi Bantara. ( idibantara@yahoo.co.id)
Sahabat , Pengembang dan Pemerhati Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Pedalaman Terkhusus Oksibel.